Sebelum gelombang api itu meledak dan menghanguskan segala yang ada di tanah Kahuripan menjadi abu, aku sudah melakukan rekayasa genetik dengan kekuatan pikiran. Aku merancang tubuhku sendiri untuk melakukan regenerasi super cepat ketika ledakan api maha panas itu membakarku dengan sangat cepat.
Akan tetapi pikiranku sudah merekayasa tubuh untuk melakukan regenerasi super cepat lebih cepat dari kecepatan api yang mengubah daging dan tulangku menjadi abu. Mungkin 10 kali lebih cepat dari kecepatan api yang membakar. Karena itu aku masih hidup hingga hari ini, terselamatkan dari ledakan gelombang api bom sentuh bangsa Uman.
Sekarang aku berada di pusat peradaban bangsa Uman, dengan matahari yang hanya bersinar terang di kota ini saja dan di beberapa kota yang menjadi budak bangsa Uman. Matahari di tempat lain, sudah puluhan tahun disembunyikan bangsa Uman dengan teknologi super canggih mereka yang memungkinkan untuk merekayasa langit.
Bangsa Uman, semakin serakah. Tekad mereka untuk menguasai dunia semakin gila, dominasi mereka atas matahari sudah merusak sebagian besar bumi ini dengan kegelapan abadi yang membunuh banyak bangsa lain. Mata air yang tersisa, semuanya dikuasai bangsa Uman. Sementara bangsa-bangsa yang lain yang lemah, hidup tersiksa di bawah penindasan bangsa Uman.
Berperang melawan mereka memakai pedang, senjata api dan bom bukanlah jalan terbaik. Kekuatan militer bangsa Uman sudah semakin sempurna, mereka memiliki pasukan elit Holos yang berpuluh tahun silam membantai habis koloni Morpes, hanya aku yang tersisa, tercerabut dari ranahnya sendiri yang sudah menjadi abu tanpa sisa.
Aku dan manusia bawah tanah yang hidup di lorong-lorong becek kota Kembang Wangi, terus melakukan perlawanan dengan menggempur sistem-sistem pertahanan mereka melalui serangan teknologi bawah tanah. Kita tidak berperang dengan menumpahkan darah, kita membunuh teknologi dengan teknologi. Setelah itu, mungkin pertumpahan darah akan menyusul.
Akan tetapi pikiranku sudah merekayasa tubuh untuk melakukan regenerasi super cepat lebih cepat dari kecepatan api yang mengubah daging dan tulangku menjadi abu. Mungkin 10 kali lebih cepat dari kecepatan api yang membakar. Karena itu aku masih hidup hingga hari ini, terselamatkan dari ledakan gelombang api bom sentuh bangsa Uman.
Sekarang aku berada di pusat peradaban bangsa Uman, dengan matahari yang hanya bersinar terang di kota ini saja dan di beberapa kota yang menjadi budak bangsa Uman. Matahari di tempat lain, sudah puluhan tahun disembunyikan bangsa Uman dengan teknologi super canggih mereka yang memungkinkan untuk merekayasa langit.
Bangsa Uman, semakin serakah. Tekad mereka untuk menguasai dunia semakin gila, dominasi mereka atas matahari sudah merusak sebagian besar bumi ini dengan kegelapan abadi yang membunuh banyak bangsa lain. Mata air yang tersisa, semuanya dikuasai bangsa Uman. Sementara bangsa-bangsa yang lain yang lemah, hidup tersiksa di bawah penindasan bangsa Uman.
Berperang melawan mereka memakai pedang, senjata api dan bom bukanlah jalan terbaik. Kekuatan militer bangsa Uman sudah semakin sempurna, mereka memiliki pasukan elit Holos yang berpuluh tahun silam membantai habis koloni Morpes, hanya aku yang tersisa, tercerabut dari ranahnya sendiri yang sudah menjadi abu tanpa sisa.
Aku dan manusia bawah tanah yang hidup di lorong-lorong becek kota Kembang Wangi, terus melakukan perlawanan dengan menggempur sistem-sistem pertahanan mereka melalui serangan teknologi bawah tanah. Kita tidak berperang dengan menumpahkan darah, kita membunuh teknologi dengan teknologi. Setelah itu, mungkin pertumpahan darah akan menyusul.
0 comments:
Post a Comment