28.5.10

The Secret Geometry Of Chance

Hujan!
Basah, lapar, dingin, tak ada rokok tak ada gelas yang bisa dilemparpecahkan hingga hilang segala jengah. Ada yang harus kumengerti di antara huruf berderet yang tereja menjadi namamu, N O K I A. Backlight sewarna lemon berkedip, melukiskan Hermes yang pincang, mungkin terluka ketika berperang melawan Ares dalam pesan singkat yang diringkas menjadi alay. Aaaaahh… aku ingin memelukmu sore ini, ketika hujan selalu menjadi benteng yang memaksa perjalanan bahasa puruk di kaki BTS yang hilang kuasa.


Dingin!
Hari-hari yang panjang, lebih panjang dari bayang di waktu sore yang remang. Kutatapi lentikan air pelimbahan dari dalam kamar, tip tap tip tap… air melompat memburu genang. Ada bayangmu samar menjadi riak, menjadi dingin, menjadi nalar yang tenggelam. Aku sedang dan sudah tidak ingin mengulur tangan!

Beku!
Angin lari kencang, tersandung tembok, kembali berdiri merayap menuju sudut ruang. Matahari yang sudah hilang sejak tadi siang, semakin tersudut di kemungkinan yang juga tersudut.

0 comments:

Post a Comment