IBX582A8B4EDEABB Gadis Payung | Info Absurditas Kata Gadis Payung - Info Absurditas Kata
Beranda · E-Mail Koran · Info Lomba · Kiat Menulis · Adsense · SEO Youtube · Jasa · Toko · Blog

Gadis Payung


             “Hujan adalah berkah, berbahagialah.”
            Ufa tersenyum, teringat kata-kata bapaknya beberapa hari ke belakang. Ditatapnya langit yang bergelayut awan, angin kencang dan hawa hujan yang tak lama lagi akan datang. “Hujan, datanglah. Berkati aku, berkati perut keluargaku, terutama adikku.” Ufa berdoa, di dalam hati. Dicarinya Tuhan di balik awan-awan, semoga doa-doanya didengar.

            “Bapak, sebentar lagi hujan. Ayo, siapkan payungnya.” Ufa meraih payung di sudut tembok pagar, bapak hanya tersenyum kemudian tengadah menatap langit, memanggil hujan. Tongkat kayu menyangga tubuhnya digepit di ketika kiri dan kanan. Kedua kakinya sudah hilang sejak belasan tahun silam, patah ketika terjatuh di sebuah proyek bangunan. Dokter mengamputasi kakinya sebatas paha.
            “Hujaaaaaaaan…” Teriak Dino, sahabat Ufa. Keduanya membuka payung, memburu orang-orang, menawarkan jasa ojek payung.
            “Terimakasih Tuhan.” Nina bergumam.
            Kata-kata bapak memang benar, hujan adalah berkah, Tuhan memiliki banyak cara untuk member rezeki, salah satunya melalui hujan, itu yang saja mampu Ufa pikirkan. Selebihnya rasa riang yang tak beralasan. Payung segala macam payung terkembang di pelataran mall besar. Hujan jatuh tak tertahan, deras bukan alang kepalang.
Nalar terjebak di gedung megah salah satu pusat perbelanjaan. Matanya tak pernah diam, terus berlarian menatap papan iklan, barang-barang pajangan dan etalase yang selalu kental dengan rayuan.
“Di sini hujan sayang, kayaknya aku bakalan telat. Ga apa-apa kan?” Nalar cemberut, merayu pacarnya di seberang sana, agar sudi mengulur waktu, lebih lama menunggu, “Iya nanti aku bawain.” Nalar melipat handphone, matanya kembali berlarian menatapi papan iklan di dinding gedung, menatapi orang-orang yang bersedekap terjebak hujan.
“Payung, payung.” Teriak anak-anak kecil, berebut tangan orang-orang.
Siapa saja yang keluar dari gedung itu, akan disambut para penjaja payung yang memagar di sepanjang pelataran. Mereka terlihat riang menikmati hujan, bersyukur dengan setiap bulir dan dinginnya yang terus deras berjatuhan.
Nalar berjalan ke beranda, terselip-selip di antara kerumunan. Ufa di seberang pelataran mengintainya, menatapnya penuh harapan. Tubuhnya sudah kuyup disergap hujan. Tangannya bergetar menahan dingin, erat menggenggam payung penuh harapan.
“Payung Kak, payung.” Ufa berlari memburu Nalar.
Tidak hanya Ufa yang memburu Nalar, semua penjaja payung juga memburunya, menawarkan ojek payung. Nalar tersenyum, ditolaknya tawaran mereka semua. Tatapan Nalar bertumbukan dengan harapan di mata Ufa. Nalar tidak peduli, Ufa hanyalah penjaja payung di antara sekian banyak ojek payung yang mendadak bertebaran di saat hujan. Mereka seolah datang dari langit, dilahirkan dari rintik dan menari di atas genang. Penuh riang menikmati berkah hujan.
Ufa tidak beranjak, disodorkannya payung besar berwarna hijau. Matanya penuh rayu, penuh harap, penuh doa agar Nalar entah bagaimana caranya segera berlari ke bawah payungnya, berlindung dari hujan. “Payung Kak…” Bisik Ufa, bergetar. Nalar tidak peduli, tatapnya acuh.
“Aku masih di sini, hujannya gede banget. Gimana dong?”
Nalar kembali berbicara dengan pacarnya melalui handphone, sudah lebih dari 1 jam Nalar berdiri di beranda, di anak tangga, di antara sekian banyak tawaran ojek payung yang ditolaknya. Ufa sudah menawarkan payungnya kepada siapa saja, tidak satu pun berjodoh dengan doa-doanya. Payungnya tak juga berlayar membendung hujan.
“Payung Kak, payung.” Ufa kembali  membujuk, Nalar tetap menolak.
Ufa berlari memburu orang lain, menawarkan payung, hanya tolak dan tepis yang diterimanya. Kembali dicarinya kemungkinan di pelataran mall, “Apakah payungku jelek?” Ufa menurunkan payung, menatapnya, menyelidik, sama saja seperti payung yang lain, tidak jelek, tidak robek. Ufa terus berburu, dari kedalaman hatinya doa-doa tak pernah berhenti diterbangkan ke awang-awang.
Di sudut jalan, di bawah pohon rindang yang tak lagi menyelematkan siapa saja dari hujan, bapaknya mengawasi penuh harapan. Jika saja kedua kakinya masih utuh, tentu payung itu akan berada di tangannya, menjadi dewa nasib yang memberinya rezeki di celah penghujan.
“Sial, benci gue kalau hujan begini.” Nalar mengumpat, wajahnya diluapi kesal.
Hujan bagi sebagian lain menjadi peristiwa yang menyebalkan. Nalar membenci hujan, seperti hari ini hujan sudah membuatnya teramat kesal. Berjalan dalam deras hujan, bagginya bukan pilihan. Di jalanan sana, ada air deras yang menjijikan, cipratan pelimbahan yang membuat gatal-gatal, sampah yang berseliweran.
Tapi di seberang sana, kekasihnya sedang menuggu. Suaranya tadi ketika menelpon sudah terdengar kesal. Seharusnya hujan tidak pernah turun, tidak pernah datang di waktu seperti itu, Nalar mendongak, ditatapnya hujan dan langit yang masih hitam.
“Sebel!” Nalar terlihat geram, “Payung…” Nalar melambaikan tangan, memanggil penjaja payung. Ufa segera memburunya, bola matanya penuh binar.
Langit berhujan, kelam, dingin, kejam, menelagakan kesal di dalam pikiran Nalar. Sementara Ufa merasa terlempar ke tempat paling benar, ke cahaya terang, ke ruang hangat dan tenang. Disodorkannya payung besar berwarna hijau, diurainya senyum riang lebar-lebar. Didengarnya doa-doa yang sejak tadi dipanjatkan.
“Terimakasih Tuhan” Ufa menatap langit, dititipkannya rasa terimakasih kepada hujan. Kaki mungilnya melangkah cepat, ikuti Nalar dari belakang. Hujan, dingin dan rasa lapar merobek-robek tubuhnya dari dalam.
Ufa terus berjalan di antara hujan, menguntit Nalar yang kesal menembus genang air pelimbahan. Nalar sudah sampai di tempat tujuan, diburunya taksi kosong di pinggir jalan. “Berapa Non?” Nalar menyodorkan payung, tubuhnya sudah berada di dalam mobil.
“3000 rupiah, Ka.” Diraihnya payung yang terlipat, diterimanya dua lembar uang kertas, seribu rupiah dan dua ribu rupiah.
Hujan semakin deras, langit semakin kelam, lampu jalan tak cukup terang, jarak pandang kian berkurang. Nalar sudah berlayar di atas genang, menuju entah ke mana bersama rasa kesal, bersama rasa sebal. Ufa menatap dua lembar uang kertas, mulutnya tersenyum riang, sangat riang.
“Lumayan…” Gadis kecil bergumam.
***
            “Payung, payung.”
            Para penjaja payung berpesta dalam deras hujan, dunia mereka sepenuhnya sempurna, mengalir deras menuju mimpi. Semakin deras, semakin lama hujan berjatuhan, semakin banyak recehan yang bisa dikumpulkan.
            “Aku udah dapet lima!” Teriak seorang bocah lelaki, kepada temannya di seberang jalan. Hanya jempol yang diacungkan ke awang-awang yang menjadi jawaban dari seberang jalan. Mereka saling tersenyum, lalu kembali berburu recehan. Kota semakin gelap, hujan menyerap segala cahaya. Arus kendaraan mengalir cepat, tidak ada kemacetan, hanya sinar lampu yang kencang berlarian, menumbuk riak, menumbuk gelombang.
            Gadis kecil, menatapi orang-orang di beranda, menyapu kemungkinan. Payungnya kembali terkembang erat di genggam tangan kanan. Tangan kirinya menyimpan uang di plastik hitam. Selembar dua ribuan telah bersarang aman, selembar seribuan jatuh di atas aspal, terseret air ke tengah jalan. “Uangku!” Pekik gadis kecil, kemudian berlari mengejar lembar uang seribuan.
Toooooot!!!
Jedruuugggg.
Bruuuuugghh.
Langit semakin kelam, gadis kecil tersungkur di tengah jalan, merah darah melukis deras air pelimbahan. Uang seribuan yang selembar berlayar tak sempat diselamatkan.
Deras hujan tak bisa dihentikan.

Artikel keren lainnya:

Belum ada tanggapan untuk "Gadis Payung"

Post a Comment

Berkomentar memakai akun Blogger akan lebih cepat ditanggapi, berkomentar memakai akun Facebook tergantung radar :D Terima kasih telah berkomentar